Selasa, 27 Maret 2012

Posted by KHUSNUL KHOTIMAH on 09.35 No comments
  • MANUSIA  & HAKEKAT MANUSIA
   Maksudnya yaitu pada dasarnya manusia itu adalah makhluk yang memang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk hidup saling memberi, membantu, berkomunnikasi antara yang satu maupun dengan yang lainnya, pada intinya adalah sebagai makhluk yang bersosialisasi.
      Seorang manusia harus memiliki sikap serta cara yang baik dalam berkomunikasi dengan yang lainnya, karena cara berkomunikasi itu sangat berpengaruh sekali terhadap kehidupannya tersebut. Didalam cara berfikir, serta berperilaku harus sesuai dengan norma-norma yang ada dan memiliki nilai-nilai kehidupan  yang tinggi jadi semua itu bergantung kepada cara berpikir manusia tersebut.


  • KEPRIBADIAN BANGSA TIMUR 

      Bangsa Timur merupakan bangsa yang sangat menjunjung norma-norma serta adat istiadat yang telah tumbuh sejak dulu, tanpa maksud untuk merendahkan bangsa barat. Namun, kehidupan serta cara berfikir bangsa barat dengan bangsa timur sangat berbeda. Bangsa barat sangat menjunjung tinggi rasionalitas, namun moralitas sangat kurang dari bangsa timur. Bangsa timur identik dengan mempertahankan aturan yang telah lama bahkan turun temurun sudah ada dan itu tidak akan dilanggar. Bangsa timur identik dengan keramah tamahannya terhadap orang luar, serta rasa sikap kepeduliannya yang tinggi, karena dibandingkan dengan bangsa barat yang lebih bersifat individualisme.



  • UNSUR-UNSUR, WUJUD, & ORIENTASI KEBUDAYAAN



Unsur-unsur budaya atau kebudayaan universal menurut C. Kluckhohn meliputi 7 unsur pokok yang dimiliki setiap kebudayaan, yaitu :
1. bahasa
2. Sistem pengetahuan
3. organisasi sosial

4. Sistem peralatan hidup dan teknologi
5. Sistem mata pencaharian hidup
6. Sistem religi
7. Kesenian


Ada 3 wujud kebudayaan, yaitu:
1. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dll. Wujud ini merupakan wujud ideal dari kebudayaan. Tempatnya ada di dalam kepala atau pikiran atau bisa juga tertaung dalam tulisan-tulisan. Istilah lain yang lebih tepat untuk menggambarkan wujud ideal kebudayaan ini adalah adat atau istiadat.


2. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas dan tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat. Wujud kebudayaan ini sering disebut juga sistem sosial yakni tindakan berpola manusia itu sendiri. Sebagai rangkaian aktivitas manusia, sistem sosial atau wujud kebudayaan ini bersifat konkret atau nyata, terjadi setiap saat di sekitar kita, dapat diobservasi dan dapat didokumentasikan.


3. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.
Wujud kebudayaan ini sering disebut juga dengan kebudayaan fisik. Oleh karena sifatnya benda fisik, wujud ini sangat konkret, dapat diraba, dilihat dan difoto. Misalnya komputer, bangunan.dan pakaian


sumber : http://www.anneahira.com/unsur-unsur-budaya.htm

Orientasi kebudayaan


Marilah kita menyadari, kebudayaan bukanlah kreasionisme. Kebudayaan melakukan banyak penyimpangan dari desain besar yang ingin mengendalikannya. Sudah saatnya menganggap selesai perdebatan tentang orientasi utama dan bentuk terakhir kebudayaan Indonesia. Setiap orang secara potensial adalah pencipta kebudayaan.
(NIRWAN DEWANTO, Senjakala Kebudayaan, Yayasan Bentang Budaya 1996)
Dari pernyataan tersebut di atas, sesungguhnya kita sedang digugah untuk menyadari bahwa desain besar kebudayaan kita sedang dalam kondisi kritis. Sebagai contoh, kebudayaan tradisional yang agung (High Culture) telah terkalahkan oleh budaya modern (Dinamice Culture) yang didukung oleh sains dan teknologi. Kebudayaan yang mendunia (baca globalisasi) sekarang pun terbukti mengalami krisis karena telah gagal mensejahterakan masyarakat secara umum. Kebudayaan modern, meskipun telah banyak kemajuan di bidang sains dan teknologi, namun secara ekonomi hanya menguntungkan pihak tertentu saja, dalam hal ini kapitalislah yang diuntungkan sebagai produsen dan pemilik sumber kebudayaan modern yang cenderung mempengaruhi dan mengusai kebudayaan dunia.
Maka menjadi wajar kebudayaan modern melahirkan kebudayaan destrukrif misalnya berupa demonstrasi, bahkan anarkis menjadi bagian kebudayaan orang-orang yang merasa dirugikan (contoh : demo buruh dan karyawan menuntut perbaikan upah untuk memenuhi kebutuhan kesejahteraannya). Kesejahteraan buruh sangat ditentukan oleh kepemilikan kapital (kebudayaan materialisme). Maka peran pemerintah sebagai penentu kebudayaan yang seharusnya mensejahterakan rakyat menjadi bergeser sebagai penjaga keamanan, ujung-ujungnya demi capital juga pemerintah melakukan represi dan penindasan kepada rakyat yang tidak menguntungkan kebijakannya. Pemerintah menjadi agen bagi pemilik modal raksasa (baca: ekonomi sebagai panglima), misalnya dalam kasus Freeport dan masyarakat Timika yang terbelakang pendidikannya.
Pendidikan Pasar
Paradigma kebudayaan modern telah menjadikan dunia spiritual termasuk seni dan agama cukup sebagai komoditi yang perlu diperhitungkan dengan nilai harga jualnya. Pendidikan mahal menjadi keniscayaan karena kebutuhan sarana dan prasarana menjadi penting, termasuk pula teknologi pendidikan menjadi ukuran kualitas lembaga pendidikan yang mendunia. Keberhasilan transformasi ilmu guru kepada murid juga diukur dari penguasaan peralatan mengajar yang digunakan gurunya.
”Globalisaasi”, Dulu notebook bermakna buku sekarang bermakna laptop, artinya teknologi telah mampu merubah makna kata dari pemahaman konsumennya. Pemahaman konsumen ternyata mudah dibentuk oleh produsen atau bahasa lokal telah dikalahkan oleh bahasa global. Dalam konteks kebudayaan, bahasa Indonesia telah tercerabut dari akarnya dan selanjutnya image kepada guru yang tidak menguasai teknologi dianggap ketinggalan, atau mungkin diragukan kemampuan mengajarnya. Maka sekolah atau lembaga pendidikan harus mengeluarkan biaya ekstra untuk melatih guru-guru menggunakan teknologi modern.yang belum tentu bisa, karena tidak memiliki perangkat sendiri yang mahal harganya. Apalagi guru-guru “tradisi” seperti Umar Bakri (simak lagu ciptaan Iwan Fals). Mungkin lebih tepat guru-guru melagukan Song theme “Hous For Sale” By Bule.
Kebudayaan Alternatif
Namun untuk kembali ke tradisi sudah tidak mungkin lagi, kecuali mencari pijakan kebudayaan pendidikan baru yang dinamis namun tidak bergantung pada biaya tinggi. Pembelian produk teknologi yang berkembang cepat dan menuntut konsumen untuk terus mengikuti, tentu saja berat kecuali Indonesia menjadi negara produsen teknologi tinggi. Untuk ini kita tidak bisa percaya pada ramalan para ahli globalisasi. Di dalam zaman kita ini, kenyataan bukanlah hal yang mudah ditangkap. Kenyataan adalah fragmentasi dari kebudayaan yang telah terbelah-belah oleh kekuatan ekonomi (mass culture). Dalam hal ini, selera pasar menjadi penting untuk diperhitungkan lagi. Kesejahteraan guru haruslah dilihat sebanding dan sejajar dengan pendapatan selebrities.Tujuan kebudayaan tak lain untuk kemajuan dan kesejahteraan hidup manusia di mana saja dan sebagai apa saja. (Surat kepercayaan gelanggang 1960: Kami adalah pewaris sah kebudayaan dunia).
Sejuta Milyar Satuan
Kawan, peran apa yang kau berikan untuk mengisi kemerdeekaan ini?
Pernyataan puitis tersebut di atas, mempertegas bahwa posisi kebudayaan sesungguhnya berada pada diri kita masing-masing sebagai pelaku (seleksi terhadap pengaruh asing dalam lingkup “kebudayaan”). Kebudayaan saling-silang (baca kebudayaan tarik-ulur) lalu melahirkan kebudayaan post-modern yang muncul dan kemudian dianggap gagal karena merancukan keyakinan beragama bagi masyarakat (umat) penganutnya. Oleh karena itu, sebagai jawaban kita pasti bersepakat dengan Islam, misalnya ayat 136 surat Al Baqarah yang jelas menyatakan:
Katakanlah :”Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya (kami beriman) kepada apa yang diberikan kepada Musa dan Isa dan kepada apa yang diberikan kepada para nabi dari tuhanNya. Kami tiada membeda-bedakan satu dari lainnya dari antara mereka dan kami menyerahkan diri kepada Allah”.
   
 
Sumber :
 http://www.smam1gresik.sch.id/?p=189

  • PERUBAHAN KEBUDAYAAN & KAITAN MANUSIA DENGAN KEBUDAYAAN


     Perubahan kebudayaan sangat berdampak besar bagi kehidupan manusia, yang mana sistem yang sudah berjalan sekian lama berubah meskipun hal itu sangat sulit. Apa sih kaitannya manusia dengan kebudayaan??? kebudayaan sangat amat melekat pada masyarakat yang mana sangat sulit untuk merubah suatu kebiasaan yang sudah dijalani, namun alangkah baiknya kebuadayaan tidak usah diubah karena setiap kebudayaan yang berkembang di masyarakat berbeda-beda serta memiliki ciri khas tersendiri. Jadi alngkah baiknya kita saling menghargai kebudayaan yang kita punya dan apa yang orang lain punya, maka dari itu kita akn merasakan yang namanya rasa toleransi dan kebudayaan kita semakin beraneka ragam.

Categories:

0 komentar:

Posting Komentar